KITA BELUM MERDEKA

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia” memiliki arti: 1. bebas dari penghambaan, penjajahan, dsb.; 2. tidak terkena atau lepas dari tuntutan; 3. tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Dari definisi ini, benarkah negeri ini sudah merdeka? Hmm… paling tidak kalau ngikutin apa kata kamus, jelas dong negeri ini belum terkategori merdeka dalam arti kata yang sebenarnya.

Apakah benar kita sudah bebas dari penghambaan, penjajahan dan sejenisnya? Mungkin para pendiri bangsa, atau istilah kerennya the founding father, sudah berusaha sekuat mungkin untuk melepaskan diri dari penjajahan dan akhirnya berhasil memproklamasikan kemerdekaan negeri ini pada 17 Agustus 1945. Tapi, lagi-lagi, benarkah itu sebuah kemerdekaan? Ternyata pada hari ini, pada saat ini, kita masih belum bisa lepas dari penghambaan terhadap negeri lain. Kita masih bermetal inlander alias terjajah dengan masih sibuk mematut-matut diri agar bisa menyenangkan negara lain. Ya, itu namanya kita belum merdeka dalam arti yang sebenarnya.

Apakah saat ini kita masih terikat dan tergantung kepada pihak tertentu? Hmm.. kamu pasti sudah tahu jawabannya. Ya, kita belum merdeka, karena negeri ini masih terikat banyak perjanjian dengan negera lain. Celakanya, perjanjiannya hampir seluruhnya merugikan negeri ini. Mau bukti? Pasca gempa Yogyakarta dan Jateng yang lalu, negeri ini kembali berutang. Bahkan wapres Jusuf Kalla mengatakan bahwa utang masih jadi pilihan. Untuk membiayai pembangunan, negeri ini kecanduan untuk memperbanyak utang. Alasan wapres Jusuf Kalla, “Tak ada cara mendapatkan duit segar untuk pembangunan selain mengutang. Aset apalagi yang bisa dijual?”

Hasilnya, CGI (Consultative Group on Indonesia) pada sidang yang ke-15, Juni yang lalu bersedia menggelontorkan duit pinjaman dan hibah US 5,4 milliar dolar (sekitar Rp. 51,3 Triliun) untuk Indonesia. Cukup besar memang, belum lagi jika ditambah utang luar negeri lainnya dan beerapa cicilan untuk IMF. Negeri ini terjerat dalam utang yang dibelitkan negara-negara maju dan lembaga dunia, yang pada akhirnya, memiskinkan negeri ini.

Ironinya, negeri ini sumber daya alamnya termasuk melimpah dan cukup untuk bisa hidup tanpa bantuan utang dari negera lain. Negeri ini memiliki areal hutan paling luas di dunia, tanahnya subur, alamnya indah. Potensi kekayaan laut luar biasa (6,2 juta ton ikan, mutiara, minyak dan mineral lain). Di darat terkandung barang tambang emas, nikel, timah, tembaga, batubara, dsb. Di bawah perut bumi tersimpan gas dan minyak yang cukup besar.

Tapi, semua itu tak bisa dimanfaatkan dengan baik. Bukan hanya karena ketaktersediaan perkakas teknologi untuk mengolahnya, tapi lebih karena sifat mental yang ingin instan dan mengeruk keuntungan pribadi. Maka diberikanlah ijin kepada perusahaan-perusahaan asing untuk mengelola sumber daya alam kita. Oknum pejabat merasa puas hanya dengan menikmati uang sogokan dan komisi yang haram. Sudah begitu, korupsi pula. Para pemimpin negeri ini menghamba kepada negera-negara penjajah. Ini jelas menunjukkan bahwa negeri ini belum merdeka. Sekali lagi, belum merdeka secara hakiki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: