Minot, North Dakota? Why?

Minot – Setiap kali teman diskusi kami bertanya ke mana tujuan kami selanjutnya, mereka langsung membelalakkan mata setelah tahu jawaban kami.

“Minot, North Dakota? Why?” tanya seorang konsultan media yang juga veteran jurnalis, Gene Mater, di Newseum, Washington DC, pertengahan Juli lalu.

Rekan diskusi lainnya tak kalah kaget dan seolah menakut-nakuti kami, “Nyamuknya segede ini.”

Kedua telapak tangannya lalu direnggangkan sekitar 30 cm, menunjukkan betapa besarnya sang nyamuk.

Seorang anak muda dari kantor kampanye Barack Obama di Orlando, Florida, juga geleng-geleng kepala. “Saya pernah ke sana, nggak ada apa-apa di sana,” ujarnya.

Hal yang sama diungkapkan seorang kasir Hard Rock Cafe di Indianapolis. “Jujur saja, nggak banyak yang bisa dilakukan di sana,” ungkap pemuda kulit hitam itu dengan ramah.

Di Indonesia, nama Minot jelas tidak populer. Kalah pamor dengan nama Washington DC, New York, San Fransisco, apalagi Hollywood.

Minot adalah kota kecil di negara bagian North Dakota, negara bagian yang bertumpu pada pertanian. Kota ini nyaris terletak di tengah benua Amerika bagian utara.

Nama North Dakota juga tak seharum negara bagian lainnya dan kurang progresif dibandingkan para tetangganya. Tapi, bau koboi terasa menyengat. Maklum, banyak lahan pertanian dan peternakan, yang biasa dikelola ‘koboi’.

Minot dengan Narth Dakotanya adalah AS yang sesungguhnya. Begitulah alasan Kedubes AS di Jakarta maupun pejabat Deplu AS di Washington DC yang menyambut kami, peserta International Visitor Leadership Program on Cyber Journalism.

“AS itu bukan New York atau San Fransisco. AS sesungguhnya ada di sana (Minot),” ujar Helen Szpakowski dari Deplu AS. Minot masuk daftar kota yang kami kunjungi karena mencerminkan kehidupan rural negeri adidaya itu.

Seorang warga Minot yang menyambut kami dalam piknik bersama yang disebut potluck (masing-masing peserta piknik membawa bekal makanan yang disantap bersama-sama), juga menyatakan hal serupa. Kehidupan koboi adalah bau AS yang sebenarnya.

Pria berkumis melintang dan bertopi koboi yang akhirnya kami sebut ‘pak koboi’ itu dengan bersemangat menjelaskan keunggulan kotanya, yang penuh dengan nilai-nilai asli AS yang ramah dan suka menolong.

Menjelang akhir Juli, saya dkk berkunjung ke Minot selama 3 hari. Suasana kota yang berjarak 50 mil selatan Kanada ini tidak seperti yang ditakut-takutkan pada kami.

Tak ada nyamuk segede gaban. Jalan beraspal sungguh lebar. Ada bandara internasional yang melayani penerbangan dari/ke Kanada dan penerbangan lokal hanya ke Minneapolis, dan ada juga Universitas Negeri Minot.

Yang menakjubkan, dari 3.000 mahasiswa yang menimba ilmu di sana, 3 di antaranya adalah mahasiswi dari Indonesia! Ketiganya merupakan kakak beradik.

“Hanya ada dua hal di Minot, hawa sangat dingin saat winter dan pembangunan,” komentar Ruth, salah seorang organizer kami, saat melintasi proyek pelebaran jalan.

Jalan di Minot sungguh lebar, padahal yang lewat tak terlalu banyak. Maklum, kota itu hanya berpenduduk 35.149 orang. Jangan bayangkan kemacetan ala Jakarta!

Di akhir pekan, kota ini dipenuhi oleh mobil berpelat nomor Kanada. Dolar AS yang lebih rendah dibanding dolar Kanada membuat warga negeri tetangga berakhir pekan di Minot dan membeli banyak barang belanjaan. Mumpung murah. Alhasil, mencari hotel di akhir pekan di Minot bukan pekerjaan gampang.

Bahkan organizer kami sempat menemui kesulitan mendapatkan hotel beberapa bulan sebelumnya untuk kami, karena semua kamar sudah dibooking oleh publik yang hendak menghadiri festival seni akbar Skandinavia. Festival ini berakhir sehari sebelum kedatangan kami.

Minot memang tak bisa disebut kota kecil. Di sini terdapat pusat riset pertanian North Central Research Extension Center, yang mendorong penggunaan internet di kalangan petani di pedesaan. Pusat riset ini juga memiliki lahan pertanian untuk penelitian seluas 1.200 are.

Petani di kota ini biasa menjalankan bisnisnya dengan internet. Misalnya pasangan Donna dan Harvey. Mereka memiliki situs untuk mempromosikan peternakan kudanya.

Pasangan ramah ini memiliki kuda 45 ekor dan mengelola lahan pertanian 1.000 hektar! Hebatnya, bisnis ini cukup dikelola oleh keluarga ini saja, tak menggunakan tenaga kerja tambahan.

Karena pertanian adalah isu utama di Minot, maka wartawan bidang pertanian menduduki posisi terhormat. Seorang wartawan pertanian dari Minot Daily Newspaper, koran terbesar di Minot, menyatakan, bahwa penduduk di Minot terus berkurang.

Hal ini terjadi karena orang muda Minot tidak tertarik menggeluti bisnis pertanian sehingga memutuskan pindah ke negara bagian lain untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

“Hal itu menyebabkan oplah koran kami tidak mampu bertambah. Oplah stabil saja sudah cukup bagi kami,” katanya dalam pertemuan di Minot State University.

Kota kecil itu juga memiliki dua stasiun televisi yaitu KMOT dan KMXC. Kunjungan kami juga masuk berita di dua televisi ini dan juga Minot Daily Newspaper.

Legislator Minot dari Partai Demokrat,  Lisa, juga membenarkan bahwa banyak anak muda yang meninggalkan Minot. “Mereka ingin mendapatkan penghasilan yang lebih baik,” kata guru SMA ini.

Meski demikian, David Waind, Manajer Kota Minot, menolak anggapan penduduk Minot terus berkurang. “Saya tidak setuju itu,” ujarnya.

Syukurlah kami berkunjung ke Minot saat musim panas. Sebab saat winter, suhu sangat ekstrem. Ratusan tahun lalu, suhu dingin luar biasa di Minot sangat disukai oleh orang-orang Skandinavia karena mirip dengan cuaca di negeri asal mereka. Akibatnya, mereka menetap di Minot dan membangun peradaban.

Sebuah Skandinavian Heritage Park menjadi daya tarik wisata di kota ini, selain bison, kerbau raksasa khas Amerika.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: