Islam dan Indonesia

Sejarah nusantara membuktikan bahwa eksistensi negara Indonesia dibangun dengan tetes darah dan jerit tangis umat Islam. Dan kebanyakan catatan sejarah membuktikan bahwa umat Islamlah yang menjadi perintis dari perubahan bangsa ke arah yang lebih baik. Banyak pihak mengkhawatirkan menguatnya ajaran Islam dalam kehidupan umat Islam di Indonesia akan menghancurkan eksistensi keragaman budaya yang ada di Indonesia. Benarkah Islam sebuah agama yang menakutkan ? Atau Islam penuh dengan kekerasan ? Dalang terorisme ?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita harus melihat dalam skala pandang kebhinekaan yang ada di Indonesia, secara sadar dan bijaksana kita harus menarik permasalahan yang timbul sekarang ke sejarah timbulnya nusantara dan adanya negara Indonesia. Karena sejarah adalah salah satu bagian dari sudut pandang penelitian untuk memahami keadaan sekarang. Soekarno seorang nasionalis sejati pernah berkata, ” Jangan sekali-sekali melupakan sejarah..”

Dari sejarah itulah maka kita mengenal perjuangan Cut Nyak Dien di Aceh, Pangeran Antasari di Kalimantan Selatan, Pangeran Diponegoro di Jawa dan seterusnya sampai diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia. Perjuangan mereka dibentuk dan disadarkan oleh ajaran Islam yang menentang penindasan sesama manusia. Islam sebagai agama dan aturan hidup memandang semua manusia dalam satu sederajat yang sama, kecuali kadar keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Inti dari ajaran Islam adalah menuju keselamatan, kedamaian dan kebahagiaan lahir dan bathin baik di dunia maupun di akhirat.

Salah satu ajaran Islam dalam hal memberikan kesadaran tentang pentingnya perghargaan terhadap sesama manusia adalah metode zakat, dan sedekah. Penerima zakat adalah orang-orang tertentu atau badan amil yang telah digariskan sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Hadits (jumlahnya hanya delapan). Diluar yang telah ditentukan tersebut tentu haram hukumnya bagi penerima dan pemanfaatannya.

Hakikat dari pengeluaran zakat adalah salah satu cara bagaimana umat Islam yang berkemampuan secara finansial, harta dan ilmu pengetahuan untuk memberdayakan kaum yang lemah baik dari lemah sisi ekonomi, pengetahuan maupun tenaga untuk mampu berdiri sendiri, sejahtera dan duduk sejajar sesama umat manusia. Zakat mendidik umat Islam untuk selalu memperhatikan orang-orang yang berada disekitarnya terutama bagi mereka yang tergolong fakir miskin, dhuafa, anak-anak yatim dan seterusnya yang tergolong lemah. Maka adalah sangat tragis kalau kaum dhuafa, gelandangan, pengemis dan sebagainya masih ada yang meninggal kelaparan akibat kemiskinan yang mendera mereka, sementara Indonesia warganegaranya penganut Islam terbanyak. Di sini membuktikan masih banyak PR yang harus dilakukan umat Islam untuk memberdayakan umatnya, untuk mengangkat harkat sesamanya. Di samping memang kebanyakan umat Islam di Indonesia masih tergolong keluarga sederhana, hidup dalam keterbatasan. Dengan kata lain dana zakat yang bergulir masih banyak diperlukan bagi peruntukan pembangunan dan kemaslahatan umat Islam itu sendiri. Dan sangat tendensius kalau dana zakat dianggap sebagai salah satu pembiayaan gerakan terorisme.

Islam memberi pelajaran dan menghargai adanya hak-hak orang lain dalam kepemilikan harta pribadi. Dalam harta yang kita miliki ada fungsi sosial, ada hak orang lain juga.Harta itu sebetulnya tidak menjadi milik pribadi secara mutlak.

Dari zakat itu, ajaran Islam mengajarkan bahwa keberhasilan kita hari ini, harta yang kita miliki dan segala yang ada pada diri kita termasuk pakaian yang kita pakai tidak lepas dari bantuan dan adanya hasil kerja orang lain. Islam mendidik kita untuk menyadari bahwa kita tidak bisa hidup sendiri tanpa masyarakat betapapun kuat dan banyaknya harta yang dimiliki. Dan masyarakat itu tidak hanya terdiri dari muslimin dan muslimat saja bukan?

Sejarah Kekejaman Kaum Penjajah

Sejarah mencatat bagaimana kongsi dagang Portugis dan Belanda dengan VOC-nya telah mengeruk kekayaan nusantara, serta adanya kerja paksa yang menyebabkan banyaknya rakyat tewas tanpa penghargaan sebagai layaknya manusia. Sikap angkuh dan bengisnya penjajah membuat kebencian. Rakyat pribumi dipandang sebelah mata. Rakyat dikotak-kotakan dalam bingkai feodalisme. Metode adu domba dan pecah belah dilancarkan untuk menghancurkan kekuatan bangsa saat itu. Dan sepertinya nilai-nilai kemanusiaan sudah tidak mereka miliki. Bukankah mereka juga menjadi agen misionaris?

Kekayaan nusantara diambil dan dirampas tanpa memperhatikan hajat hidup rakyat nusantara yang menjadi pemilik kekayaan tersebut. Kekejaman demi kekejaman, kebathilan demi kebathilan akhirnya memaksa pemimpin seperti Cut Nyak Dien, Pangeran Antasari, Pangeran Diponegoro dan seterusnya pada saat itu melakukan perjuangan, melawan dan melawan segala bentuk penjajahan dan penindasan itu.

Cara diplomasi telah dilakukan. Begitu pula cara persahabatan dengan negosiasi. Namun semua cara itu tidak mampu mengusir penjajah dari muka bumi nusantara. Mereka umumnya sudah kadung cinta harta dan dunia, sehingga pendapat dan himbauan orang lain dianggap angin lalu saja.

Kekuatan senjata terpaksa menjadi pilihan terakhir. Walaupun persenjataan mereka sangat sederhana dan terbatas bila dibandingkan dengan kekuatan penjajah waktu itu. Dengan berbekal kekuatan tawakkal kepada Allah SWT. Bambu runcingpun jadi senjata yang mematikan.

Sejarah itu kini berulang lagi layaknya sebuah siklus. Kemerdekaan yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 tidak serta merta membebaskan rakyat Indonesia dari segala bentuk penindasan dan penjajahan sampai hari ini. Hasil-hasil kekayaan alam Indonesia banyak yang dikuasai pihak asing. Rakyat bekerja dengan upah yang minimal sekali, sementara jaminan sosial dan tunjangan sosial sangat sedikit dan terbatas. Bahkan sistem kerja sudah menyerupai sistem kerja rodi. Kalau mau boleh kerja, tidak mau harus keluar. Rakyat Indonesia akhirnya hanya menjadi penderita dan penonton segala bentuk pengerukan kekayaan alam. Kerusakan demi kerusakan terhadap alam terjadi dimana-mana. Banjir, longsor dan polusi menjadi bagian hidup rakyat. Harkat hidup rakyat diinjak-injak. Kekayaan yang diakui konstitusi untuk dipergunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat (Pasal 33 UUD 1945) jelas tidak ada artinya.

Ditengah program konversi minyak tanah dan harga BBM yang tinggi. Rakyat dipaksa menggunakan gas. Tapi gas menghilang dipasaran dan akhirnya harga gaspun ikut naik. Segala bentuk minyak telah terlampau berharga tinggi. Rakyat pun harus menjerit lagi.

Belum usai mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM, gas dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Listrik sebagai lambang sebuah kemakmuran pun sudah byarpet. Akibatnya banyak lapangan usaha rakyat menjadi kembang kempis. Mungkin tidak lama pengangguran pun makin merajalela. Nampaknya kemakmuran itu sudah jauh dari sebuah harapan. Rakyat dijepit oleh kebutuhan hidup yang makin tinggi harganya. Rakyat bertekuk lutut dibawah kehendak sang penguasa. Namun anehnya sikap dan tindakan itu pun diatasnamakan untuk rakyat. Lalu rakyat yang mana ?

Benarkah siapapun orangnya kalau menjadi presiden atau memerintah seperti sekarang akan bertindak sama menaikan harga BBM?

Jawabnya tentu tidak. Tentu tergantung bagaimana orang tersebut bekerja dan berusaha. Bukankah semua perubahan itu datangnya dari usaha ? Tinggal bisa atau tidaknya saja berusaha.

Fakta dan waktu selalu akan menjadi buktinya.

Cut Nyak Dien, Pangeran Antasari, Pangeran Diponegeoro dan seterusnya sebagai seorang pemimpin di zamannya, tentu juga mempunyai rakyat yang dipimpinnya. Rakyat itu pun tidak saja beragama Islam semata. Banyak kepercayaan yang telah hidup. Banyak budaya yang menghiasinya. Perjuangan mereka tidak saja diperuntukan bagi rakyat yang menganut agama seperti mereka saja. Perjuangan mereka adalah murni karena tuntutan terhadap pengakuan atas persamaan hak dan kewajiban sebagai manusia. Manusia dalam agama apapun juga. Bukankah penjajahan dan penindasan adalah salah satu bentuk penistaan terhadap persamaan hak dan kewajiban sebagai manusia. Terlebih sebagai umat yang beragama.

Syariat Islam

Syariat Islam seharusnya dipahami sebagai aturan hidup. Aturan hidup itu mengatur hubungan pribadi manusia dengan dan dalam sebuah negara. Aturan hidup dari ajaran Islam mencakup segala aspek kehidupan manusia. Karena aturan hidup itu bertujuan menjaga harkat dan martabat manusia itu sendiri. Sebagai manusia yang hidup dalam suatu negara maka secara sadar pula manusia itu berupaya agar bagaimana kehidupan bernegaranya itupun selalu mendukung usaha manusia sebagai makhluk dan hamba Allah SWT. Salah satu caranya adalah bagaimana agar kehidupan sehari-hari manusia itu tidak lepas dari mengingat Allah SWT sebagai Sang Pencipta.

Inti persoalan terhadap pro dan kontra adanya syariat Islam terletak pada adanya kemauan atau tidak agar harkat dan martabat manusia itu tetap terjaga. Atau mungkin cara hidup kerbau, babi, dan anjing lebih menarik untuk menjadi bagian hidup manusia ? Nauzubillah…

Sejarah nusantara membuktikan bahwa eksistensi negara Indonesia dibangun dengan tetes darah dan jerit tangis umat Islam. Dan kebanyakan catatan sejarah membuktikan bahwa umat Islamlah yang menjadi perintis dari perubahan bangsa ke arah yang lebih baik.

Begitu pula saat kemerdekaan tiba. Banyak tokoh Islam seperti M. Natsir dengan Mosi Natsir-nya yang menghormati keragaman agama, budaya dan etnis bangsa dan sebagainya. Minimal para tokoh tersebut dan kita pun memahami bahwa agama Islam mengakui nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila sebagai nilai-nilai ketauhidan dalam Islam. Artinya Pancasila bukanlah sebuah agama, tetapi Pancasila mengandung nilai-nilai agama terutama agama Islam.

Kondisi diatas memberikan gambaran bahwa keberadaan ajaran Islam yang mencintai perdamaian dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia sangat dalam dan berarti. Ajaran Islam yang diimplementasikan dalam personifikasi pemimpin saat itu hanyalah sebagian kecil dari indahnya ajaran yang dicontohkan Rasulullah SAW. Dengan kata lain seandainya agama Islam belum ada di nusantara, maka dapat dipastikan Indonesia hanya sebuah mimpi belaka. Kemerdekaan dan terbentuknya negara Indonesia mungkin akan terseok-seok seperti terseok-seoknya bangsa kita saat ini dalam menuju kemakmuran.

Maka adalah sebuah Sunatullah apabila muslimin dan muslimat berusaha mencari solusi dengan ajaran agama Islamnya dalam menghadapi kebobrokan, kehancuran moral, hukum, dan pranata sosial dewasa ini. Terlebih segala teori dan asumsi manusia telah terbukti tidak mampu menciptakan kelestarian alam, ketentraman, kedamaian dan kesejahteraan. Bahkan justeru akibat ulah tangan dan kaki manusia pulalah terjadinya kerusakan dimuka bumi ini.

Sehingga sangat naif apabila seorang pemimpin yang berlatar belakang Islam dan tampil ke permukaan dan ingin mewujudkan kedamaian, kesejahteraan dengan cara-cara yang sesuai aturan Islam, dicurigai sebagai orang yang menghancurkan eksistensi keragaman budaya. Padahal bukti sejarah telah mengatakan banyak pemimpin Islam yang memiliki sifat-sifat nasionalis. Dan seorang pemimpin yang berpegang pada ajaran Islam seharusnya mampu mewujudkan sifat Islam yang rahmatan lil alamin. Ajaran Islam seharusnya juga membumi.

Dan adalah sangat lucu bila saat ini umat Islam mengaktualisasikan ajaran agamanya dalam bentuk peraturan perundang-undangan secara konstitusional yang notabene bertujuan mengatur dirinya sendiri selalu dicurigai sebagai jalan menjadikan Indonesia sebagai negara agama. Bukankah sudah kita sepakati seperti diatas bahwa nilai-nilai sila pertama dalam Pancasila adalah nilai-nilai yang mengakui adanya ajaran agama sebagai bagian dari tata hidup dalam bernegara untuk selalu diamalkan? Bukankah Pancasila telah dijadikan dasar dalam bernegara?

Jadi tidak fair dan cenderung bersifat kerdil kalau apa yang terjadi saat ini dimana keinginan moral masyarakat kebanyakan yang menginginkan adanya peraturan daerah atau peraturan perundang-undangan yang mencerminkan ajaran Islam, dianggap sebagai cara menghancurkan kebhinekaan dan mengganti Pancasila. Anggapan dan tuduhan yang salah dan cenderung memutarbalikan fakta. Karena orang-orang yang seharusnya menghilangkan nilai-nilai agama dari kehidupan pribadi dalam bernegaralah yang seharusnya dipandang sebagai tindakan yang berupaya menghancurkan Pancasila, terutama sila pertama itu. Dan hal itulah yang dapat digolongkan pula sebagai tindakan teroris dan memecah belah bangsa Indonesia. Kekejaman orang yang tidak beragama melebihi kekejaman seekor binatang bukan?

Implementasi aturan hidup Islam ke dalam hukum positif sejauh dilakukan secara konstitusional maka hal itu adalah sah dan mengikat. Beda kalau dilakukan secara ekstrim dengan gencatan senjata, makar dan sebagainya. Walaupun sejarah kemerdekaan Indonesia dilahirkan dari perjuangan bersenjata.

Seharusnya sebagai sebuah bangsa kita mampu berpikir bahwa kalau agama kita yakini sebagai jalan hidup , maka tentu saja dia harus menjadi bagian dari kehidupan itu. Kehidupan itu tidak saja terdiri dari makan dan makanannya serta tidur dan mimpinya. Tetapi ajaran hidup itu juga mengatur bagaimana mencari makan yang baik dan halal, bagaimana memulai makan sampai membuang kotoran dari makanan itu pun ada aturannya. Aturan hidup itu juga mencakup bagaimana kita memperhatikan kelestarian lingkungan alam dan segala isinya. Disinilah perlulah pemerintahan sebagai lokomotifnya. Semua itu tentu demi kebaikan dan harkat manusia itu sendiri.

Memisahkan agama dari kehidupan manusia termasuk kehidupan bernegara tentu sangat berbahaya. Karena hal itu tidak lain dari sebuah upaya menciptakan ketidak tertiban dalam masyarakat. Contoh dan buktinya sudah banyak. Salah satunya adalah banyaknya pelaku korupsi yang beragama Islam. Banyak yang mengaku beragama Islam tetapi tidak mengenal ajaran agamanya. Hal ini tidak lain karena dipisahkannya nilai-nilai agama dari kehidupan keseharian umat Islam. Akhirnya umat Islam merasa asing dengan ajaran agamanya. Dan orang yang menjalankan syariat agamanya pun dianggap asing pula.

Akibat banyaknya yang melakukan korupsi maka keadaan keuangan negara menjadi defisit. Rakyat banyak menjadi menderita. Pembangunan terhambat. Ekonomi pun tidak berjalan secara memadai. Efek domino itu hanya disebabkan oleh perbuatan korupsi saja. Apalagi bila perbuatan zina merajalela. Maka tentu banyak anak-anak yang tidak tahu dan mengenal bapaknya. Dan banyak penyakit merajalela. Masih banyak lagi multifier efek akibat dijauhkannya agama dari kehidupan manusia.

Undang-Undang Korupsi sebenarnya salah satu peraturan yang sejalan dengan ajaran Islam. Namun kebanyakan orang tidak menyadari hal tersebut. Perbedaannya hanya terletak pada sanksi hukumnya saja. Perbedaan ini berimplikasi pada efek jera yang diinginkan dari sebuah sanksi kadangkala tidak berjalan secara efektif. Beda kalau semua ajaran Islam dilaksanakan secara kaffah.

Sekali lagi Islam bukanlah agama yang hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT semata. Tetapi Islam adalah ajaran sempurna yang di turunkan dan diridhoi Allah SWT untuk segala aspek kehidupan manusia yang menginginkan kedamaian, ketenteraman, keamanan dan kesejahteraan dan seterusnya. Seperti yang dsebutkan dalam Surat Al Maaidah ayat 3.

Maha benar Allah SWT dengan segala firman-Nya.

One response to this post.

  1. Posted by fatihah on Januari 13, 2010 at 8:50 pm

    smw kesuksesan, keb’hsln, keterpurukan tergantun9 olh org i2 sndri. sdr atw tdk, Qt hax bz m’mulaix dr dri Qt sndri.Sadarlah dan pedulilah kpd sesama manusia.0K!!!@_@

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: